Friday, March 18, 2016

SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN TASAWUF

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang oleh umatnya diyakini mengandung seperangkat nilai dasar untuk menuntun kehidupan manusia guna mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai ajaran agama yang utuh dan lengkap, Islam tidak sekedar memberi atensi terhadap satu dimensi kehidupan, katakanlah jasmani semata tapi juga menekankan aspek rohani. Keduanya harus berada pada suatu keseimbangan. Islam senantiasa memberi tempat bagi penghayatan keagamaan yang bersifat eksoteris (zhahir, lahiriyah) maupun esoterik (bathini) sekaligus,[1] dengan tetap berpijak pada orbit keseimbangan. Artinya sikap ekstrimitas terhadap salah satu aspek semata bisa menimbulkan kepincangan dan menyalahi prinsip keseimbangan dimaksud.
Kendati demikian, pada kenyataannya prilaku penghayatan keagamaan umat Islam terbagi dua kelompok, yang satu menitikberatkan penghayatan keagamaan pada ketentuan-ketentuan luar (al-Ahkam al-Zhawahir, yakni segi-segi lahiriah) dan satu kelompok lain, lebih menitikberatkan pada ketentuan "dalam" atau segi batiniyah[2], kelompok terakhir inilah yang kemudian dikenal sebagai ahli tareqah atau ahli tasawuf.

PERSENTUHAN ISLAM DENGAN FILSAFAT YUNANI

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembicaraan masalah filsafat, baik filsafat pendidikan, filsafat Islam maupun lainnya, berarti juga harus berbicara tentang filsafat Yunani. Hal ini karena tidak dapat diingkari bahwa filsafat pendidikan, filsafat Islam dan filsafat lainnya, terpengaruh pada filsafat Yunani. Karena itu K. Bertens mengatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Dari sebab itu sebenarnya tidak ada pengantar filsafat yang lebih ideal dari pada studi mengenai pertumbuhan pemikiran filsafat di negeri Yunani.[1]
Sebelum Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. bersentuhan dengan kebudayaan luar Islam, sesungguhnya kehidupan bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia berada dalam pengaruh peradabannya masing-masing. Kehidupan sosial dan beragama yang mereka jalankan adalah buah keyakinan terhadap ajaran ketauhidan (Monotheis) yang disampaikan oleh rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw. Perkembangan selanjutnya, ajaran ketuhanan yang monotheis itu mengalami bias menuju politheis karena rentang waktu yang cukup panjang antara kehadiran satu rasul dengan rasul berikutnya.. Seperti jarak kehadiran Nabi Isa as yang cukup panjang dengan jarak diutusnya Rasul terakhir, Nabi Muhammad saw. yang berakibat memudarnya konsep tauhid bergeser ke dalam paradigma ketuhanan Trinitas. Di sisi lain, pergeseran paradigma ketuhanan dalam alam pikiran dan keyakinan manusia disebabkan oleh kecerdasan berpikir manusia yang progressif demi menjawab tantangan kebutuhan zamannya. Apalagi, kecerdasan berpikir yang ditandai dengan kebebasan akal tidak mempunyai referensi di luar dirinya, sehingga akal bergerak bebas tanpa kendali yang menggiring keyakinan manusia ke wilayah kebenaran subyektif dan apriori.

Wednesday, March 2, 2016

SISTEM DAKWAH DAN PERJUANGAN NABI MUHAMMAD DI MEKAH DAN MADINAH

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah ajaran yang diwahyukan oleh Tuhan kepada para hamba-Nya agar menjalankan “Amar Ma’ruf wa Nahi Munkar”. Islam yang merupakan ajaran agama semua nabi yang intinya mentauhidkan dan mengesakan-Nya. Demikian pula Islam yang diwahyukan kepada Muhammad Saw. sebagai Nabi yang terakhir telah mengantar manusia untuk sampai kepada tujuan untuk mampu mengabdi kepada-Nya.
Muhammad dilahirkan dalam cabang keluarga Hasyim dari keturunan bangsawan Quraisy (berkuasa awal abad VII) di Mekah. Umumnya sejarawan meyakini Muhammad lahir pada tahun 570 M. Keajaiban pun banyak menandai kehadiran kekasih Allah di persada bumi ini, diantaranya terjadinya penyerangan terhadap Ka’bah oleh Pasukan Bergajah di bawah pimpinan Abraham, namun dengan kekuasaan Allah yang senantiasa melindungi Ka’bah, menurunkan azab dengan perantara Burung Ababil. Dalam waktu yang bersamaan, padam pula api sembahan Kisra Persia yang tak pernah padam selama seribu tahun. Kisah ini diabadikan dalam Q.S.Al-Fiil (105). “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah? 2.  Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? 3. Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, 4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, 5.  Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”[1]