Tuesday, January 10, 2017

BAHAN AJAR : KONSEP PENELITIAN TINDAKAN KELAS



A.      Deskripsi Singkat
Mata Diklat Konsep Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada perserta diklat bagaimana cara melaksanakan penelitian tindakan kelas sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah, mulai dari penetapan/pemilihan topik, dasar teori, pemecahan masalah atau pembahasan sampai dengan penyelesaiannya.
B.     Indikator
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan mampu memahami dasar-dasar penelitian tindakan kelas dengan berbagai aspeknya, mulai dari menentukan topik, kajian teori, metode, pembahasan, teknik penulisan, sampai dengan penggunaan bahasanya. Kajian pokok dalam masalah ini adalah pengertian penelitian tindakan kelas, tujuan penelitian tindakan kelas, penelitian di bidang pembelajaran, di bidang pembelajaran, pelaksanaan penelitian tindakan kelas.
C.     Pokok Bahasan
             1.       Pengertian penelitian tindakan kelas,
             2.       Tujuan penelitian tindakan kelas,
             3.       Penelitian di bidang pembelajaran,
             4.       Pelaksanaan penelitian tindakan kelas.

Friday, March 18, 2016

SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN TASAWUF

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang oleh umatnya diyakini mengandung seperangkat nilai dasar untuk menuntun kehidupan manusia guna mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai ajaran agama yang utuh dan lengkap, Islam tidak sekedar memberi atensi terhadap satu dimensi kehidupan, katakanlah jasmani semata tapi juga menekankan aspek rohani. Keduanya harus berada pada suatu keseimbangan. Islam senantiasa memberi tempat bagi penghayatan keagamaan yang bersifat eksoteris (zhahir, lahiriyah) maupun esoterik (bathini) sekaligus,[1] dengan tetap berpijak pada orbit keseimbangan. Artinya sikap ekstrimitas terhadap salah satu aspek semata bisa menimbulkan kepincangan dan menyalahi prinsip keseimbangan dimaksud.
Kendati demikian, pada kenyataannya prilaku penghayatan keagamaan umat Islam terbagi dua kelompok, yang satu menitikberatkan penghayatan keagamaan pada ketentuan-ketentuan luar (al-Ahkam al-Zhawahir, yakni segi-segi lahiriah) dan satu kelompok lain, lebih menitikberatkan pada ketentuan "dalam" atau segi batiniyah[2], kelompok terakhir inilah yang kemudian dikenal sebagai ahli tareqah atau ahli tasawuf.

PERSENTUHAN ISLAM DENGAN FILSAFAT YUNANI

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembicaraan masalah filsafat, baik filsafat pendidikan, filsafat Islam maupun lainnya, berarti juga harus berbicara tentang filsafat Yunani. Hal ini karena tidak dapat diingkari bahwa filsafat pendidikan, filsafat Islam dan filsafat lainnya, terpengaruh pada filsafat Yunani. Karena itu K. Bertens mengatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Dari sebab itu sebenarnya tidak ada pengantar filsafat yang lebih ideal dari pada studi mengenai pertumbuhan pemikiran filsafat di negeri Yunani.[1]
Sebelum Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. bersentuhan dengan kebudayaan luar Islam, sesungguhnya kehidupan bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia berada dalam pengaruh peradabannya masing-masing. Kehidupan sosial dan beragama yang mereka jalankan adalah buah keyakinan terhadap ajaran ketauhidan (Monotheis) yang disampaikan oleh rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw. Perkembangan selanjutnya, ajaran ketuhanan yang monotheis itu mengalami bias menuju politheis karena rentang waktu yang cukup panjang antara kehadiran satu rasul dengan rasul berikutnya.. Seperti jarak kehadiran Nabi Isa as yang cukup panjang dengan jarak diutusnya Rasul terakhir, Nabi Muhammad saw. yang berakibat memudarnya konsep tauhid bergeser ke dalam paradigma ketuhanan Trinitas. Di sisi lain, pergeseran paradigma ketuhanan dalam alam pikiran dan keyakinan manusia disebabkan oleh kecerdasan berpikir manusia yang progressif demi menjawab tantangan kebutuhan zamannya. Apalagi, kecerdasan berpikir yang ditandai dengan kebebasan akal tidak mempunyai referensi di luar dirinya, sehingga akal bergerak bebas tanpa kendali yang menggiring keyakinan manusia ke wilayah kebenaran subyektif dan apriori.